Rabu, 26 September 2012

PENDIDIKAN-Faktor yang Mempengaruhi Belajar


Belajar itu tergantung pada bermacam-macam factor. Adapun faktor-faktor itu dibedakan menjadi dua golongan :
·         Factor yang ada pada diri organisme itu sendiri (factor individual) antara lain :
a)      Kematangan
Kita tidak dapat mengajarkan sesuatu yang baru jika seorang anak belum mempunyai kematangan baik kematangan fisik maupun kematangan psikis. Mengajarkan sesuatu yang baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkan, potensi jasmaniah atau rohaaninya telah matang untuk menerima hal tersebut.
b)      Kecerdasan
Selain kemtangan, dapat tidaknya seseorang mempelajari sesuatu akan berhasil ditentukan pula oleh taraf kecerdasannya. Sebagai contoh tidak semua anak cakap mempelajari ilmu pasti meskipun telah mencapai kematangan untuk mempelajari ilmu pasti. Demikian pula halnya dalam kecakapan-kecakapan yang lain.
c)       Latihan dan ulangan
Dengan latihan, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimiliki dapat semakin dikuasai. Karena latihan dan sering mengalami sesuatu, seseorang dapat timbul minatnya pada sesuatu tersebut. Sebaliknya tanpa latihan, pengalaman yang dimiliki akan berkurang atau hilang.
d)      Motivasi
Motif  merupakan pendorong bagi organisme untuk melakukan sesuatu. Motif intrinsik dapat mendorong seseorang sehingga akhirnya orang itu menjadi spesialis dalam bigang pengetahuan tertentu. Tak mungkin seseorang berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya jika ia tidak mengetahui betapa penting dah faedah hasil yang akan dicapai dari belajarnya tersebut.
e)      Sifat-sifat pribadi seseorang
Disamping factor yang telah dibicarakan diatas, faktor  pribadi sesorang turut pula memegangi peranan dalam belajar. Sifat-sifat yang ada pada diri seseorang itu turut mempengaruhi sampai dimanakah hasil belajar yang dicapai.yang termasuk dalam kepribadian ini ialah factor fisik kesehatan dan kondisi badan.
·         Factor yang ada di luar individu (factor social) antara lain :
a)      Keadaan keluarga
Suasana kekeluargaan yang bermacam-macam mau tidak mau turut menentukan bagaimana dan sampai di mana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak. Termasuk fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memgang peranan penting pula.
b)      Guru dan Cara Mengajar
Sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru dan bagaimana cara mengajarkan pengetahuan kepada anak didiknya menentukan hasil belajar yang dicapai anak.
c)       Alat-alat pelajaran
Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat tersebut akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak.
d)      Motivasi social
Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak-anak timbullah dalam diri anak dorongan dan hasrat untuk belajar. Motivasi social dapat pula timbul pada anak karena orang-orang lain di sekitarnya, seperti dari tetangga, sanak saudara, teman-teman sepermainan dan sekolahnya. Pada umumnya, motivasi social ini diterima secara tidak sengaja atau tidak sadar oleh anak.
e)      Lingkungan dan kesempatan
      Seorang anak dari keluarga baik, memiliki intelejensi yang baik, bersekolah di sekolah yang baik belum tentu pula dapat belajar dengan baik. Banyak pula anak-anak yang tidak dapat belajar dengan hasil yang baik dan tidak dapat mempertinggi belajarnya akibat tidak adanya kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk 

PENDIDIKAN-Berpikir Kritis & Pengambilan Keputusan


BERPIKIR KRITIS DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.    BERPIKIR KRITIS
Berpikir kritis semakin dipandang perlu. Hampir setiap detik kita dituntut untuk berpikir kritis. Kita dituntut untuk tidak langsung menerima sesuatu secara utuh dan menganggapnya 100% benar. Kita harus mencari sebab dan bukti-bukti yang mendukung dari data-data yang kita terima setiap waktu. Untuk itulah setiap orang dituntut untuk dapat berpikir kritis.
1.      Pengertian Berpikir Kritis
Ada banyak pengertian tentang berpikir kritis. Definisi-definisi yang dikemukakan para tokoh antara lain dikemukakan oleh Richard Paul. Beliau mendefinisikan berpikir kritis sebagai :
“...proses merumuskan alasan yang tertib secara aktif dan terampil dari menyusun konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan melalui proses pengamatan, pengalaman, refleksi, pemberian alasan (reasoning) atau komunikasi sebagai dasar dalam menentukan tindakan.”[1]

Chance dan Mertes juga mengemukakan definisi berpikir kritis. Mereka mendefinisikan berpikir kritis sebagai :
“...sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan.”[2]

Berdasarkan dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah proses sadar dan sengaja dalam menafsirkan dan mengevaluasi informasi yang secara tertib dan terampil dilakukan mulai dari menyusun konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan melalui proses pengamatan, pengalaman, refleksi, pemberian alasan sebagai dasar dalam menentukan tindakan.
Inti dari kemampuan berpikir kritis terdiri dari enam kemampuan dasar yang diantaranya :
   Interpretasi : kategorisasi, dekode, mengklarifikasi makna
   Analisis : memeriksa gagasan, mengidentifikasi argumen
   Evaluasi : menilai pernyataan, menilai argumen
   Inferensi : mempertanyakan pernyataan, memikirkan alternatif, menarik kesimpulan, memecahkan masalah,  membuat keputusan
   Penjelasan : menyatakan masalah, menyatakan hasil,  mengemukakan kebenaran prosedur, mengemukakan argumen
   Regulasi diri : meneliti diri, mengoreksi diri
Sementara itu, berpikir kritis dapat diwujudkan dalam beberapa keterampilan. Beberapa keterampilan yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis antara lain :
·         Merumuskan masalah : Memformulasikan bentuk pertanyaan yang memberi arah untuk memperoleh jawaban
·         Memberi argumen : Argumentasi atau alasan yang sesuai konteks, menunjukkan persamaan dan perbedaan dengan argumentasi komprehensif
·         Melakukan deduksi : Mendeduksi secara logis, kondisi logis deduktif, melakukan interpretasi terhadap pertanyaan
·         Melakukan induksi : Melakukan investigasi/pengumpulan data, membuat generalisasi dari data, membuat tabel dan grafik, membuat kesimpulan terkait dengan hipotesis
·         Melakukan evaluasi : Evaluasi diberikan berdasarkan fakta dan berdasar prinsip atau pedoman, memberikan alternatif penyelesaian masalah
·         Memutuskan dan melaksanakan : Memilih kemungkinan solusi, menentukan kemungkinan tindakan yang akan dilaksanakan


2.      Manfaat Berpikir Kritis
Ada beberapan manfaat yang dapat diambil oleh seseorang yang mampu berpikir kritis, diantaranya :
·      Membantu memperoleh pengetahuan untuk memperkuat argumen
·      Mampu mengumpulkan dan menafsirkan  informasi secara efektif
·      Mempermudah membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat
·      Dapat membiasakan diri untuk berpikiran terbuka
·      Mampu mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada lainnya
·      Mampu terhindar dari berbagai upaya penipuan, manipulasi, pembodohan, dan penyesatan

3.      Proses Berpikir Kritis
Pertama, proses berpikir kritis bermula dari ilmu  pengetahuan. Semua dimulai dengan mengetahui serta meningkatkan pemahaman mengenai topik yang sedang dipikirkan. Contohnya, jika kita berpikir mengenai bagaimana cara memperbaiki mesin, kita pasti memerlukan pengetahuan  mengenai cara kerja mesin dan sumber permasalahan sehingga terjadi kerusakan. Pada proses ini terjadi usaha meningkatkan pemahaman. Yang terjadi dalam proses ini adalah  seseorang mengerti tentang apa yang dipikirkannya. Jika tidak memahami apa yang kita pikirkan, maka kita sesungguhnya tidak dapat memikirkannya secara efektif.
Langkah berpikir kritis adalah menerapkan pikiran ke dalam tindakan atau  aplikasi. Jika kita  tidak dapat mengaplikasikan pemikiran dan pengetahuan pada kehidupan nyata, menerapkannya untuk hal yang bermanfaat bagi kehidupan,  maka sesungguhnya kita belum mengetahui dengan benar mengenai  pentingnya memikirkan suatu. Karena prinsip ini maka kemampuan berpikir yang ideal adalah dikuatkan dengan kemampuan memanfatkan atau merealisasikan pikirkan ke dalam bentuk tindakan. Jika langkah pemikiran seperti ini dapat dilalui, maka keterampilan lanjutan yang perlu ditingkatkan adalah menganalisis topik pemikiran. Langkah terakhir berpikir kritis adalah membuat sintesis. Ini adalah langkah dalam mengorganisir, menyusun konsep, menggubah, dan menciptakan hal baru yang dikembangkan dari yang sudah ada.

4.      Melatih Berpikir Kritis
Semua orang pada dasarnya dapat berpikir kritis karena kemampuan berpikir kritis dapat dilatih. Ada banyak pakar yang mengemukakan cara-cara yang dapat ditempuh seseorang untuk dapat memiliki kemampuan berpikir kritis. Cara-cara tersebut antara lain :
1.      Menghadapi hal-hal yang tidak biasa dihadapi.
2.      Mengembangkan kemampuan diri dalam menganalisis suatu objek.
3.      Mengembangkan kemampuan diri dalam membuat sintesis.
4.      Membiasakan diri untuk selalu melakukan evaluasi aktivitas.

B.     PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.      Pengertian Keputusan
Terdapat beberapa pengertian keputusan, diantaranya adalah sebagai berikut :
·         Menurut Ralp C. Davis, “keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan.”[3]
·         Menurut James A. F. Stoner, “keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif.”[4]
·         Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo,SH. “keputusan adalah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.”[5]
Dari pengertian-pengertian keputusan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keputusan adalah suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Definisi ini mengandung 3 arti. Setiap keputusan pasti didasarkan pada satu dasar logika atau pertimbangan. Keputusan diambil atas beberapa alternatif pilihan dan selalu ada tujuan yang ingin dicapai dari penetapan suatu keputusan. Sementara itu, pengambilan keputusan memiliki definisi tersendiri. Definisi pengambilan keputusan yang dikemukakan para ahli :
·         Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
·         Menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
·         Menurut James A.F. Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.

2.      Proses Pengambilan Keputusan
Menurut Sir Francis Bacon Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut :
1.      Merumuskan/mendefinisikan masalah. Tahap ini merupakan usaha untuk mencari permasalahan yang sebenarnya.
2.      Pengumpulan Informasi yang Relevan. Tahap ini merupakan pencarian faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga dapat diketahui penyebab timbulnya masalah.
3.      Mencari Alternatif Tindakan. Tahap ini merupakan pencarian kemungkinan yang dapat ditempuh berdasarkan data dan permasalahan yang ada.
4.      Analisis Alternatif. Tahap ini merupakan analisis terhadap setiap alternatif menurut kriteria tertentu yang sifatnya kualitatif atau kuantitatif.
5.      Memilih Alternatif Terbaik. Tahap ini merupakan pemilihan alternatif terbaik yang dilakukan atas kriteria dan skala prioritas tertentu.
6.      Melaksanakan Keputusan dan Evaluasi Hasil. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya tindakan ini dituangkan ke dalam rencana tindakan. Evaluasi hasil memberikan masukan/umpan balik yang bergunan untuk memperbaiki suatu keputusan atau mengubah tujuan semula karena telah terjadi perubahan-perubahan.

3.      Berpikir Kritis dalam Proses Pengambilan Keputusan
Pemikiran kritis dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan. Jika melihat proses pengambilan keputusan, pemikiran kritis memiliki beberapa peranan, diantaranya :
1.      Membantu dalam mengindentifikasi masalah yang dihadapi
2.      Membantu dalam mengumpulkan informasi yang relevan
3.      Membantu dalam menganalisis alternatif-alternatif pemecahan masalah untuk menentukan pilihan terbaik
4.      Membantu mengevaluasi keputusan yang sudah diambil

PENDIDIKAN-Sekilas Tentang Human Capital Investment


Konsep investasi dalam pendidikan...
Investasi pendidikan dapat didefinisikan sebagai pengalokasian berbagai sumber daya ke dalam bidang pendidikan dengan harapan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan di masa yang akan datang. Sumber daya yang dialokasikan tidak hanya terbatas pada dana dalam bentuk uang, tetapi juga sumber daya manusia sebagai objek investasi. Uang digunakan untuk membiayai seseorang dalam menempuh pendidikan. Manusia yang dalam hal ini adalah objek investasi adalah pihak yang diharapkan dapat menikmati hasil dari investasi pendidikan yang dilakukan. Pengalokasian berbagai sumber daya dalam bidang pendidikan termasuk dalam investasi karena terdapat jangka waktu yang relatif lama dari awal pengalokasian sumber daya sampai pada pencapaian tujuan. Pihak-pihak yang melakukan investasi pendidikan antara lain adalah masyarakat dan pemerintah.

Hubungan pendidikan dengan pekerjaan...
Pendidikan dan pekerjaan mempunyai hubungan yang signifikan. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa pendidikan memberikan pengalaman berupa ilmu pengetahuan dan wawasan yang akan memperkaya pengalaman seseorang sehingga pengalaman orang tersebut menjadi semakin kopleks dan lengkap. Melalui pendidikan, seseorang dapat memperoleh peluang untuk bekerja di makin banyak bidang pekerjaan. Selain itu, keahlian seseorang juga akan semakin lengkap dan baik, dengan demikian membuat orang tersebut mempunyai kemampuan yang lebih baik jika telah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Kemampuan yang tinggi membuat seseorang akan lebih dihargai hasil kerja dan kopetensinya, baik secara materi maupun moril. Intinya, dapat dikatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, akan makin besar peluang kerjanya serta makin tinggi pula hasil kerja seseorang dihargai.

Hubungan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi...
Pendidikan merupakan salah satu kunci kemajuan perekonomian sebuah bangsa. Tanpa pendidikan, perekonomian suatu bangsa akan sulit untuk berkembang. Pendidikan memberikan kontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia yang menjadi salah satu faktor produksi terpenting. Pendidikan membuat sumber daya manusia menjadi lebih berkompeten, secara otomatis kontribusi sumber daya manusia terhadap produksi meningkat jika tingkat pendidikan meningkat. Hal ini akan membuat keseluruhan jumlah produksi bruto suatu negara juga akan meningkat. Melalui pola hubungan tersebut, dapat dikatakan bahwa pendidikan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Konsep invesment in human capital...
Konsep invesment in human capital dapat dipahami dengan cara memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana investasi serta human capital. Secara singkat, invesment in human capital merupakan salah satu bentuk investasi yang dilakukan dalam bidang pendidikan. Proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi. Pihak-pihak yang melakukan investasi dalam bidang pendidikan mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki untuk mengenyam pendidikan dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Keuntungan diharapkan melalui peningkatan kompetensi dan kemampuan dalam bekerja melalui pendidikan, sehingga hasil kerja mereka lebih dihargai karena memang lebih baik. Investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia berkonsentrasi pada masalah bagaimana meningkatkan mutu atau kualitas sumber daya manusia melalui proses pendidikan dan pelatihan sebagai bentuk dari investasi.

Selasa, 18 September 2012

KEPEMIMPINAN-Melayani


Dalam suatu organisasi apapun, kepemimpinan memegang peran yang penting. Bahkan segala sesuatu akan bangkit dan jatuh karena kepemimpinan. Salah satu konsep kepemimpinan yang ditawarkan oleh praktisi manajemen di Amerika adalah konsep SERVE yang dalam bahasa Indonesia berarti Melayani. Konsep utamanya ialah bahwa, apapun jabatan atau kedudukan formalnya, orang-orang yang ingin menjadi pemimpin besar harus mempunyai sikap melayani orang lain. Melalui buku “The Secret – Rahasia Kepemimpinan” oleh Ken Blanchard dan Mark Miller, konsep SERVE dijelaskan secara singkat tapi lugas. Berikut cuplikan buku tersebut yang secara kebetulan buku tersebut adalah kado ulang tahun  dari staf saya, Dini Wulansari.

SERVE sendiri merupakan singkatan dari lima kata kunci yaitu:
S- See the Future (Melihat Masa Depan)
E- Engage and Develop Others (Libatkan dan Kembangkan Orang Lain)
R- Reinvent Continuously (Temukan Kembali Terus Menerus)
V- Value Results and Relationship (Hargai Hasil dan Hubungan)
E- Embody The Values (Mewujudkan Nilai)

Huruf pertama S- See the Future mempunyai makna bahwa para pemimpin harus bersedia dan sanggup membantu orang-orang yang mereka melihat tujuannya, dan juga keuntungan-keuntungan melangkah kearah sana. Setiap orang perlu melihat dirinya, kemana mereka pergi, dan apa yang akan menuntun perjalanan mereka.

Huruf kedua E dalam SERVE menjelaskan bahwa Engange and Develop Others (Libatkan dan Kembangkan Orang Lain) ada dua hal yaitu pertama, merekrut atau memilih orang yang tepat untuk tugas yang tepat. Itu berarti mempunyai pemain-pemain yang tepat dalam suatu tim. Kedua, lakukan apapun yang diperlukan untuk melibatkan hati dan kepala orang-orang tersebut. Dalam sejarah, banyak pemimpin telah menggunakan tangan dan yang lain tidak sama sekali. Barangkali dari sanalah istilah hired hands (orang upahan) berasal.

Kemudian ada huruf R singkatan dari Reinvent Continuously. Disinilah nilai kreativitas pemimpin dilihat. Pemimpin harus bersedia menemukan kembali setidaknya ada tiga tahap. Tahap pertama, bersifat pribadi. Beberapa pertanyaan utama yang harus diajukan adalah “Bagaimana saya belajar dan tumbuh sebagai seorang pemimpin?” “Apa yang saya lakukan untuk mendorong orang-orang dalam kelompok saya agar terus menerus belajar dan menemukan kembali diri sendiri?”. Tingkat penemuan kembali yang kedua adalah sistem dan proses. Pertanyaan untuk diri sendiri dan anak buah kita adalah “Bagaimana kita melakukan pekerjaan tersebut?” Bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik? Perubahan apa saja yang akan meningkatkan kemampuan kita untuk melayani pelanggan dan juga satu sama lain? Akhirnya yang ketiga, melibatkan struktur organisasi iu sendiri. Pertanyaan yang baik yang diajukan disini adalah,”Perubahan struktur mana saja yang perlu kita tempuh untuk menjadi lebih efisien dan efektif?”

Huruf V adalah singkatan dari Value Results and Relationship (Hargai Hasil dan Hubungan) Kita harus menghargai pelanggan kita lebih dahulu, dan nilai itu akan menuntun perilaku kita dan menjamin keberhasilan kita terus menerus. Apa yang tidak dimengerti kebanyakan orang ialah bahwa mereka dapat meraup hasil keuangan yang lebih tinggi kalau mereka mempunyai hubungan yang baik. Kita harus meningkatkan nilai hubungan dengan seorang mitra seperti halnya dengan hasil. Memimpin pada tingkat yang lebih tinggi mencakup hasil maupun hubungan.

Huruf E terakhir ialah Embody The Values (Mewujudkan Nilai) Ini adalah sesuatu yang mendasar dan berlangsung terus menerus. Kalau kita kehilangan kredibilitas sebagai pemimpin, potensi kepemimpinan kita akan sangat terbatas. Kita harus melakukan lebih daripada sekedar merumuskan nilai-nilai tersebut, kita tidak boleh hanya mengucapkannya, kita harus memperlihatkannya. Semua kepemimpinan sejati dibangun di atas kepercayaan. Salah satu adalah hidup konsisten dengan nilai-nilai yang kita akui. Kalau dikatakan bahwa pelanggan adalah penting, tindakan-tindakan kita seharusnya lebih mendukung pernyataan tersebut. Jika kita memilih untuk hidup seolah-olah pelanggan tidak penting, orang-orang akan mempunyai alasan untuk mempertanyakan kelayakan kita untuk dipercaya.

Akhirnya, bagi para pemimpin yang memimpin dengan tidak didasarkan pada kekuasaan atau jabatan sebaliknya, kepemimpinan yang lahir dari hati yang melayani, maka merekalah ilham bagi semua orang dan bagi calon pemimpin masa depan.

PBM-Metode Pembelajaran

METODE DEBAT


Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
  1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
  2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
  3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
  4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
  1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
  2. Berpikir dan bertindak kreatif.
  3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
  4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
  5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
  7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
  1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
  2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
  1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
  2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
  3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
  1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
  2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
  3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
  2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
  6. Kesimpulan guru.
  7. Penutup.
Kelebihan:
  • Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
  • Setiap siswa mendapat peran.
  • Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
  • Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
  • Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
  4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
  5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
  6. Kesimpulan.
Kelebihan:
  • Setiap siswa menjadi siap semua.
  • Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
  • Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
  • Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
  • Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
  2. Guru menyajikan pelajaran.
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Memberi evaluasi.
  6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
  6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
  7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnyadisebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.

FILSAFAT-Filsafat Ilmu Ekonomi

·          Epistemologi ilmu ekonomi : Epistemologi ilmu ekonomi membahas tentang asal mula atau sumber, struktur, metode dan validitas ...